You are currently browsing the category archive for the 'Uncategorized' category.

image kompasPT Kereta Api mulai hari ini, Senin (9/6), mengoperasikan kereta rel listrik atau KRL hingga menjelang tengah malam. Begitu berita yang muncul di Kompas online hari ini. Semoga jadwalnya tak bersamaan dengan kereta hantu, kata teman saya sepabrik berseloroh.

Berita ini sudah pasti menjadi salah satu dari sedikit berita menggembirakan yang ada di ibu kota nJakarta. Lha bagaimana tidak? Hampir setiap hari, kita hanya disuguhi berita-berita yang kurang menyenangkan. Tentang harga barang yang naik lagi, inflasi yang tambah tinggi, demo-demo yang rusuh, Ahmadiyah yang jadi bulan-bulanan, kriminalitas dan sebagainya.

Coba perhatikan, semenjak reformasi, berita yang ditampilkan media lebih banyak yang miring-miring. Setidaknya begitulah yang saya tahu. Dan jangan lupa, itu sudah berlangsung sepuluh tahun lho. Artinya, selama sepuluh tahun itu pula, masyarakat kita diajari untuk berfikir negatif, skeptis. Ekstremnya, hopeless.

Lha apa iya, semboyan bad news is good news masih akan dipertahankan untuk seterusnya? Bukankan informasi buruk yang disampaikan terus menerus akan menjadi kebenaran? Ngono ya ngono, ning mbok ya ojo ngono, kata petuah jawa. Maksudnya kira-kira, masa sih ndak bisa kasih alternatif yang lebih bagus?

Rasanya kok aneh betul ya?

“…saya heran. kaum muslimin itu kan mayoritas di negeri ini. tapi mengapa korupsi merajalela? jawabannya, itu karena mereka tak menjalankan agamanya dengan baik. jika saja semua muslim melaksanakan agamanya dengan benar, pasti masalah-masalah negara ini akan selesai dalam sekejap. bla…bla…” (khutbah jumat tadi siang)

Kemudian justru saya yang balik terheran-heran. Apa khotib itu ndak tahu ya, bahwa khutbah semacam itu sangat basi? Bagaimana mungkin mengharapkan orang senegara melaksanakan sesuatu tanpa adanya aturan yang memaksa? Lha, wong sudah ada hukum yang tertulis saja masih banyak penyelewengan, bagaimana mungkin hanya dengan mengharap njur semuanya berjalan dengan baik?

Saya jadi ingat dengan perilaku para petinggi negara yang masih hobi menghimbau. Himbauan supaya berhemat energi, supaya peduli dengan rakyat miskin, supaya, supaya dan supaya yang lain-lain. Lha, lalu untuk apa mereka dijadikan petinggi negara? Bukannya mereka diberi amanah memang diperuntukkan melaksanakan aturan yang saudah disepakati bersama?

Lantas apa bedanya dengan utopia aneh di masa lalu: “jika semua orang melaksanakan Panca Sila dan P4 dengan baik, negara ini dijamin pasti negara ini lancar jaya”?. Nyatanya, negara ini ya begini-begini saja…

Angan angan yang aneh….

Apa bedanya Infak, Zakat dan Shodaqoh?

Dalam fikih islam, pengeluaran atas harta dibagi menjadi 3 bagian. Infak, zakat dan shodaqoh (sedekah).

Infak berasal dari kata na-fa-qa yang berarti menafkahkan atau membelanjakan hartanya. Infak berarti mencukupi kebutuhan untuk diri sendiri.

Mereka yang penghasilannya sudah melebihi kebutuhan pokok untuk diri sendiri (dan atau keluarga), secara otomatis memiliki tanggung-jawab sosial. Dia diharuskan mengeluarkan zakat. “Untuk mensucikan hartamu“, kata Al Qur’an. Lalu batas antara belum dan lebih dari kebutuhan pokok itu apa? Itulah yang disebut nishab, yaitu batasan-batasan tertentu sehingga harta yang kita peroleh atau kita miliki harus dikeluarkan zakatnya.

Sedang sedekah adalah amal lain di luar zakat (yang sudah harus terpenuhi lebih dulu).

Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan begini:

Infak = saat masih Kurang
Zakat = saat sudah Pas
Sedekah = saaat Lebih Baik

Selamat bersedekah…

Sewaktu di bangku sekolah dasar, guru yang sekaligus wali kelas kami bertanya: “Coba, apa cita-cita kalian?”. Ha? Apa pula itu? Kami terpana dengan pertanyaan itu. Tak satu pun dari kami yang bisa menjawab. Bahkan setelah berkalik-kali sang guru menerangkan artinya, kami tetap tak bisa menjawabnya.

Sebagai orang kampung, pertanyaan ini tentu membingungkan. Lha wong bapak-ibu tak pernah mengajari kami caranya bercita-cita. Simbah kakung dan simbah putri (sebutan untuk kakek-nenek dari pihak ibu saya) maupun eyang putri (nenek dari bapak, kakek sudah almarhum jauh sebelum saya lahir) juga tak pernah menyinggung soal ini. Tetangga kanan-kiri juga tidak pernah. Pak Mandor, tukang bengkel sepeda kami juga tidak. Kang Wasbir sang penjaga masjid kami pun tidak. Semua hidup tanpa cita-cita. Meski begitu, hidup kami ya baik-baik saja. Mengapa sekarang harus punya? Pertanyaan itu membuat saya penasaran sampai bertahun-tahun sesudahnya.
Read the rest of this entry »

Bos: Gimana kerjaannya? Dah kelar?
Saya: Belum
Bos: Lha kok belum?
Saya: Lha datanya masih seabreg
Bos: Saya ndak tanya data. Saya tanya kerjaan. Dah kelar belum?
Saya: Gimana mau kelar, waktunya cuma sehari. Biasanya kerjaan begini paling tidak membutuhkan waktu 5 hari kerja normal.
Bos: Hari ini harus kelar ya…

Dalam hati saya jawab: Kalo mau kelar, pekerjakan saja Superman!

Kang Bejo adalah seorang pecandu rokok yang akut. Dan dia selalu punya cara untuk itu meski ia sangat jarang membelinya.

Cara yang paling sering dipake, to the point:
“Minta rokoknya dong…”

Cara kedua, juga tak kalah sering:
Bejo: “Aku punya korek nih”
Saya: “Trus kenapa kalo punya korek?”
Bejo: “Lha rokoknya itu yang ngga ada? Minta dong…”

!*&^%$#@

Uang dan bersukur seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Uang merepresentasikan nafsu, sedangkan bersukur merepresentasikan pengekangan terhadap keinginan dan hawa nafsu itu sendiri. Semakin banyak uang didapat, semakin ingin mendapatkan yang lebih, semakin sulit bersukur.

Tak heran kemudian muncul sindiran: “Bahkan dengan menelan dunia dan seisinya, semuanya belumlah cukup”

Haruskah tetap miskin agar pandai bersukur?

Kang Bihin, petani penggarap, yang selalu mengerjakan sawah keluarga kami selama puluhan tahun dari jaman simbah saya masih hidup hingga sekarang. Setiap menyerahkan hasil panen kepada ibu saya baik padi, palawija maupun yang lain, panen yang bagus maupun jelek, selalu disertai pengantar:

“Alhamdulillah Gusti Pangeran isih pareng paring rejeki kalih kula. Kiye bagiane ibune… (Alhamdulillah Tuhan masih memberikan rejeki pada saya. Ini bagian untuk ibu)”.

Tak lupa pula disertai hitung-hitungan jumlah timbangan hasil panennya, zakat yang dikeluarkan, serta berapa bagian masing-masing.

Al-hamdulillah, sebuah cara sederhana untuk menyatakan terima-kasih pada Gusti Pangeran yang maha-asih

Dalam seminggu terakhir, tulisan saya yang tentang Salvation Army diserang spam. Hari ini sampai jam ini saja jumlahnya sudah 133 buah yang semua itu berasal dari satu IP Address yang sama 195.225.178.29 meski menggunakan nama yang kadang berbeda. Total yang sudah dihapus entah berapa tepatnya, sepertinya lebih dari 1000.

Ternyata saya tak sendiri, mas totoks juga mengalami hal yang sama. Gimana nih?

buku-saku-warga-negara-kecil.jpg
Penerbit Balai Pustaka

Cetakan Ketiga - Januari 1979
196 halaman (belum termasuk halaman yang hilang)

Iseng-iseng membongkar koleksi buku bapak, saya mendapatkan buku ini. Buku Saku Warga Negara Republik Indonesia. Sebuah buku yang pernah menggerakan negara ini. Optimistik, indah dan inspiratif. Sangat layak baca. Menggetarkan!

Coba saja baca kata pengantarnya:

KATA PENGANTAR
Setiap bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat mutlak memerlukan, bahwa setiap warga negaranya minimal mengetahui, memahami dan menghayati hal-hal pokok yang sangat mendasar tentang kenegaraan tanah airnya, untuk dapat membangun suatu bangsa dan negara yang dicita-citakannya dengan dukungan ketahanan nasional yang kokoh.
Read the rest of this entry »

Percakapan sore antara saya (S) dan teman (T).

T: kakakku diterima kerja di negeri seberang.
S: dimana?
T: di negeri yang jauh.
S: weh, selamat! aku ikut senang mendengarnya. semoga dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
T: tapi jauh… pulangnya lama, ongkosnya banyak.
S: kenapa tidak? aku juga pengin jika memungkinkan. bahkan jika ada lowongan untukku di negeri akhirat, akan kukejar. begitu bukan?

2173 pages viewed, 19 today
976 visits, 10 today
FireStats icon Powered by FireStats