Sewaktu di bangku sekolah dasar, guru yang sekaligus wali kelas kami bertanya: “Coba, apa cita-cita kalian?”. Ha? Apa pula itu? Kami terpana dengan pertanyaan itu. Tak satu pun dari kami yang bisa menjawab. Bahkan setelah berkalik-kali sang guru menerangkan artinya, kami tetap tak bisa menjawabnya.

Sebagai orang kampung, pertanyaan ini tentu membingungkan. Lha wong bapak-ibu tak pernah mengajari kami caranya bercita-cita. Simbah kakung dan simbah putri (sebutan untuk kakek-nenek dari pihak ibu saya) maupun eyang putri (nenek dari bapak, kakek sudah almarhum jauh sebelum saya lahir) juga tak pernah menyinggung soal ini. Tetangga kanan-kiri juga tidak pernah. Pak Mandor, tukang bengkel sepeda kami juga tidak. Kang Wasbir sang penjaga masjid kami pun tidak. Semua hidup tanpa cita-cita. Meski begitu, hidup kami ya baik-baik saja. Mengapa sekarang harus punya? Pertanyaan itu membuat saya penasaran sampai bertahun-tahun sesudahnya.

Suatu ketika, kami sekeluarga pergi mengunjungi Simbah di Kesugihan. Untuk itu, kami menggunakan kereta api kluthuk melalui stasiun Gandrung Mangu. Di sana saya menyaksikan tukang semprit kereta. Tukang semprit itu berbadan tegap dengan baju seragam biru muda, celana panjang biru tua serta topi seperti polisi, plus peluit dan tali putih yang melingkarinya hingga ke ketek. Dengan mengacungkan sebuah alat seperti raket berwaran hijau dan merah dibaliknya. Sekali semprit Pritttt….. kereta pun melaju. Betapa berkuasanya dia. Sampai-sampai kereta pun tunduk. Sebuah pemandangan yang luar biasa. Aha…! Saya mau jadi tukang peluit kereta saja. Sepertinya keren!

Nasib cita-cita saya selalu berumur pendek. Silih berganti dari tukang jaga pintu lintasan kereta api, tukang las di bengkel sepeda seperti Pak Mandor yang memiliki sebuah bengkel besar, tukang panjat kelapa seperti bapaknya Nikmatul, tukang piara burung seperti Gering anaknya Pak Tohari yang punya begitu banyak burung juga jangkrik. Dari semuanya, saya pernah memiliki sebuah cita-cita yang jika saya mengingatnya selalu membuat saya geli sendiri. Menjadi menteri.

Ya, menjadi menteri. Seperti BJ Habibie atau Harmoko. Supaya setiap hari bisa muncul di televisi. Mengapa hanya menteri dan bukan presiden? Ya karena yang sering ditampilkan televisi itu cuma menteri. Sedang presiden hanya muncul saat memancing, membuka diskusi dengan kelompencapir, atau saat sedang memotong padi saat panen raya. Jelas lebih penting menjadi menteri. Lagi pula presiden itu, menurut kabar yang beredar waktu itu, adalah jabatan yang akan dipegang pak harto untuk seumur hidup. Artinya, saya tak mungkin menjadi presiden. Jadi saya pikir lebih masuk akal menjadi menteri. Mengapa menteri? Ya itu tadi, karena kelihatannya keren.

Cita-cita pertama, menjadi seperti Habibie. Semua orang mengatakan ia orang pintar. Kuliahnya saja jauh di luar negeri. Jadi, untuk bisa seperti dia adalah pilihan yang berat dan kurang masuk akal. Oleh karena itu, saya membuat menciptakan cita-cita alternatif. Menjadi Harmoko. Modalnya cukup sisir dan minyak rambut. Dengan sisiran rapi mengkilat yang bahkan lalat pun akan terpeleset jika berusaha hinggap disana, dan sedikit kemampuan bicara. Ya, benar. Hanya sedikit. Pidatonya selalu didahului kata yang sama dalam setiap kesempatan apa pun: “Menurut petunjuk Bapak Presiden…. bla bla bla”. Bukankan lebih mudah menghafalkan sederet kalimat yang itu-itu saja daripada menjadi profesor?

Namun semuanya bernasib sama, saya tertarik dengan hal yang lebih baru. Begitu satu cita-cita hinggap di kepala, segera muncul pertanyaan baru: “apakah aku hanya akan menjadi seperti itu?”. Begitulah. Saya tak pernah benar-benar memilki cita-cita hingga sekarang. Bagaimana dengan anda?