Yang namanya negara maju, berarti juga negara makmur. Acuannya, pendapatan perkapitanya tinggi. Sebutan lain untuk negara yang mahal. Begitu pula Singapura. Demikianlah cerita yang saya dapat dari supir taksi. Tepatnya supir taksi ketiga yang saya tumpangi ketika hendak kembali ke Jakarta.
Supir taksi pertama keturunan cina. Mobilnya butut, suka tancap gas dan mengerem secara tiba-tiba, tak banyak bicara. Supir taksi kedua juga keturunan cina, cara menyetirnya sangat bagus, ramah dan sangat senang diajak bicara. Dia bercerita panajng lebar tentang betapa menyenangkannya Indonesia. Saat liburan keluarga, acap kali dia mengajak serta keluarganya pelesir ke Batam, tempat termurah yang dia bisa biayai.
“Di Indonesia semuanya murah. Makanannya murah dan lezat, hotel murah, baju-baju murah, semuanya murah. Untuk mengajak makan disini, mana sanggup saya membiayai sekeluarga makan seafood? Tapi di Batam semuanya murah. Menyenangkan sekali”, ucapnya bersemangat.
Namun, dia juga tak habis pikir dengan orang-orang jakarta yang setiap saat lalu-lalang di Singapura. Datang dan pergi layaknya cuma singgah bermain saja. Orang Jakarta sangat senang dengan kawasan Orchard yang mahal.
“Tingal dan belanja disini di Orchard hanya bisa dilakukan oleh orang kaya. Orang Jakarta pasti kaya-kaya. Tapi yang saya herankan, banyak juga perempuan nakal dari Indonesia. Ilegal pula”, katanya.
“Mungkin memang banyak yang kaya pak. Tapi kami berdua tidak. Kalo bukan karena tugas dari pabrik, mana bisa kami pergi kesini?”, sahut teman saya. Kami pun tertawa.
Supir taksi ketiga keturunan India. Waktu tempuh perjalan ke bandara yang lumayan lama, membuat saya dan teman sepabrik saya bisa mengorek banyak keterangan darinya. Dia kemudian bercerita tentang kewajiban-kewajiban keuangannya.
“Sistem disini menyebabkan setiap orang harus bekerja untuk bisa hidup. Setoran taksi per harinya 90an Dollar Sing, plus bensin dan lain-lain, total kewajiban seharinya kira-kira 150-an Dollar. Menurut hitung-hitungannya, dalam sehari dia bisa mendapatkan 50-100 Dollar bersih sehari. Itu belum termasuk kebutuhan sehari-hari: makan, pakaian dan beli apartemen.”, ceritanya
biasa di Lucky Plasa adalah sekitar 100-150 Dollar, sudah termasuk diskon. Harga apartemen sekitar 150.000 Dollar yang bisa diangsur selama belasan hingga 20 tahun.Sebagai ilustrasi tentang mahalnya biaya hidup di sana, makan nasi goreng yang isinya cuma telor di area foodcourt dekat marina bay, harganya 7 Dollar. Harga sepotong baju Dalam hitungan bulan, jumlah cicilannya sekitar 2500 Dollar. Dengah kurs dollar singapura kira-kira setara Rp 6.500,-, silahkan kalkulasi sendiri tingkat kemahalannya.
Kesimpulannya, hidup di Singapura itu susah!


4 comments
Comments feed for this article
April 22nd, 2008 at 9:58 am
arfakh
klo ada yang komentar susah, berarti dapat disimpulkan… tidak selamanya negara maju/kaya tidak ada orang miskinnya… dikatakan kaya karena ada miskin dan dikatakan maju karena ada yg berkembang/terbelakang. klo dibilang indonesia adl negara miskin/berkembang tidak salah, karena berapa unit kendaraan (motor/mobil) baru keluar dari dealer… tapi tidak salah juga kalo dikatakan indonesia negara miskin dengan banyaknya gepeng, pengangguran dan gubug reog di kota besar…
jadi ga usah di simpulkan… miskin, kaya, maju dan berkembang adalah relatif (dari mana sudut pandangnya)…
Mei 8th, 2008 at 1:04 pm
JaF
haha.. itu supir taksi teladan kali mas.. Bisa nyetor 50-100 dolar mah udah hebat..
Nah, kalau urusan makan, ya jangan di marina bay.. mahal.. cari warung melayu di daerah2 pemukiman.. paling mahal juga 3-4 dolar..
Makanya kalau ke Singapur mbok kontak2 gitu.. Tak traktir makan sop tulang paling dahsyat di Singgapur.. hehe
Mei 27th, 2008 at 2:25 pm
Fitra
Disini telunjukkan kita ga sesakti di Jakarta….nyetop taxi ga bisa di sembarang jalan,,,,harus nyari taxi line di mall2…..lah kalo lagi mendadak ujan terpaksa deh lari2an nyari halte ato taxi line….coba kalo di Jakarta, nyetop2 apa gampang….mau dipinggir jalan…di tengah jalan juga ok….hahahah….emang Jakarta is the best biarpun macetnya minta ampun
Juni 29th, 2008 at 2:10 pm
diditjogja
di jakarta juga susah