You are currently browsing the monthly archive for April, 2008.

Apa bedanya Infak, Zakat dan Shodaqoh?

Dalam fikih islam, pengeluaran atas harta dibagi menjadi 3 bagian. Infak, zakat dan shodaqoh (sedekah).

Infak berasal dari kata na-fa-qa yang berarti menafkahkan atau membelanjakan hartanya. Infak berarti mencukupi kebutuhan untuk diri sendiri.

Mereka yang penghasilannya sudah melebihi kebutuhan pokok untuk diri sendiri (dan atau keluarga), secara otomatis memiliki tanggung-jawab sosial. Dia diharuskan mengeluarkan zakat. “Untuk mensucikan hartamu“, kata Al Qur’an. Lalu batas antara belum dan lebih dari kebutuhan pokok itu apa? Itulah yang disebut nishab, yaitu batasan-batasan tertentu sehingga harta yang kita peroleh atau kita miliki harus dikeluarkan zakatnya.

Sedang sedekah adalah amal lain di luar zakat (yang sudah harus terpenuhi lebih dulu).

Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan begini:

Infak = saat masih Kurang
Zakat = saat sudah Pas
Sedekah = saaat Lebih Baik

Selamat bersedekah…

Sewaktu di bangku sekolah dasar, guru yang sekaligus wali kelas kami bertanya: “Coba, apa cita-cita kalian?”. Ha? Apa pula itu? Kami terpana dengan pertanyaan itu. Tak satu pun dari kami yang bisa menjawab. Bahkan setelah berkalik-kali sang guru menerangkan artinya, kami tetap tak bisa menjawabnya.

Sebagai orang kampung, pertanyaan ini tentu membingungkan. Lha wong bapak-ibu tak pernah mengajari kami caranya bercita-cita. Simbah kakung dan simbah putri (sebutan untuk kakek-nenek dari pihak ibu saya) maupun eyang putri (nenek dari bapak, kakek sudah almarhum jauh sebelum saya lahir) juga tak pernah menyinggung soal ini. Tetangga kanan-kiri juga tidak pernah. Pak Mandor, tukang bengkel sepeda kami juga tidak. Kang Wasbir sang penjaga masjid kami pun tidak. Semua hidup tanpa cita-cita. Meski begitu, hidup kami ya baik-baik saja. Mengapa sekarang harus punya? Pertanyaan itu membuat saya penasaran sampai bertahun-tahun sesudahnya.
Read the rest of this entry »

Bos: Gimana kerjaannya? Dah kelar?
Saya: Belum
Bos: Lha kok belum?
Saya: Lha datanya masih seabreg
Bos: Saya ndak tanya data. Saya tanya kerjaan. Dah kelar belum?
Saya: Gimana mau kelar, waktunya cuma sehari. Biasanya kerjaan begini paling tidak membutuhkan waktu 5 hari kerja normal.
Bos: Hari ini harus kelar ya…

Dalam hati saya jawab: Kalo mau kelar, pekerjakan saja Superman!

Kang Bejo adalah seorang pecandu rokok yang akut. Dan dia selalu punya cara untuk itu meski ia sangat jarang membelinya.

Cara yang paling sering dipake, to the point:
“Minta rokoknya dong…”

Cara kedua, juga tak kalah sering:
Bejo: “Aku punya korek nih”
Saya: “Trus kenapa kalo punya korek?”
Bejo: “Lha rokoknya itu yang ngga ada? Minta dong…”

!*&^%$#@

taksi.jpg

Yang namanya negara maju, berarti juga negara makmur. Acuannya, pendapatan perkapitanya tinggi. Sebutan lain untuk negara yang mahal. Begitu pula Singapura. Demikianlah cerita yang saya dapat dari supir taksi. Tepatnya supir taksi ketiga yang saya tumpangi ketika hendak kembali ke Jakarta.

Supir taksi pertama keturunan cina. Mobilnya butut, suka tancap gas dan mengerem secara tiba-tiba, tak banyak bicara. Supir taksi kedua juga keturunan cina, cara menyetirnya sangat bagus, ramah dan sangat senang diajak bicara. Dia bercerita panajng lebar tentang betapa menyenangkannya Indonesia. Saat liburan keluarga, acap kali dia mengajak serta keluarganya pelesir ke Batam, tempat termurah yang dia bisa biayai. Read the rest of this entry »

2173 pages viewed, 19 today
976 visits, 10 today
FireStats icon Powered by FireStats