Uang dan bersukur seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Uang merepresentasikan nafsu, sedangkan bersukur merepresentasikan pengekangan terhadap keinginan dan hawa nafsu itu sendiri. Semakin banyak uang didapat, semakin ingin mendapatkan yang lebih, semakin sulit bersukur.
Tak heran kemudian muncul sindiran: “Bahkan dengan menelan dunia dan seisinya, semuanya belumlah cukup”
Haruskah tetap miskin agar pandai bersukur?

1 comment
Comments feed for this article
April 2nd, 2008 at 5:31 pm
jakober
mungkin ga logikanya di rubah begini
“seperti dua sisi mata uang, berarti semakin banyak sisi yang satu semakin banyak pula sisi yang lain”