Uang dan bersukur seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Uang merepresentasikan nafsu, sedangkan bersukur merepresentasikan pengekangan terhadap keinginan dan hawa nafsu itu sendiri. Semakin banyak uang didapat, semakin ingin mendapatkan yang lebih, semakin sulit bersukur.

Tak heran kemudian muncul sindiran: “Bahkan dengan menelan dunia dan seisinya, semuanya belumlah cukup”

Haruskah tetap miskin agar pandai bersukur?