buku-saku-warga-negara-kecil.jpg
Penerbit Balai Pustaka

Cetakan Ketiga - Januari 1979
196 halaman (belum termasuk halaman yang hilang)

Iseng-iseng membongkar koleksi buku bapak, saya mendapatkan buku ini. Buku Saku Warga Negara Republik Indonesia. Sebuah buku yang pernah menggerakan negara ini. Optimistik, indah dan inspiratif. Sangat layak baca. Menggetarkan!

Coba saja baca kata pengantarnya:

KATA PENGANTAR
Setiap bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat mutlak memerlukan, bahwa setiap warga negaranya minimal mengetahui, memahami dan menghayati hal-hal pokok yang sangat mendasar tentang kenegaraan tanah airnya, untuk dapat membangun suatu bangsa dan negara yang dicita-citakannya dengan dukungan ketahanan nasional yang kokoh.

Sehubungan dengan itulah, maka buku kecil in sangat berguna dan praktis bagi setiap insan Indonesia karena isinya menyangkut hal-hal pokok seperti yang dimaksud di atas.
Khusus bagi para guru dan siswa Sekolah Lanjutan buku kecil ini sangat praktis dan berguna, sehubungan dengan Pendidikan Moral Pancasila dan pelajaran-pelajaran di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.
Kami percaya, bahwa setiap insan Indonesia ingin memiliki buku kecil ini yang isinya disusun oleh para ahli kita yang berwewenang dengan menggunakan sumber-sumber resmi yang ada.
PN Balai Pustaka

kemudian baca juga pendahuluannya
buku-saku-warga-negara-suharto-kecil.jpg
PENDAHULUAN

TANAH AIRKU INDONESIA
Sungguhlah berbahagia kita bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang besar memiliki Tanah Air yang luas, lagi pula kaya dan indah permai keadaan alamnya. Sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa pula Tanah Air kita sangat baik letaknya, yakni antara dua Benua dan dua Samudera yang luas merupakan pusat pertemuan antarbangsa sedunia. Keadaan alam yang sukar dicari bandingannya merupakan daya tarik bagi bangsa asing dan adalah modal yang besar bagi pariwisata.
Tidaklah mengherankan jika kepulauan Nusantara ini oleh Multatuli digambarkan sebagai “pending zamrud yang membujur sepanjang katulistiwa”. Tak kurang dari 13.500 pulau besar kecil bertebaran antara benua Asia dan Australia dan antara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Itulah wilayah Republik Indonesia, Tanah Air dan Tanah Tumpah Darah kita! Kepulauan Indonesia yang luasnya 2.000.000 km persegi dan panjangnya — antara Sabang dan Merauke — adalah 5.000 km, hampir menyamai benua Eropa besarnya.
Kepulauan Insulinda yang kini berpenghuni 137.000.000 jiwa (tahun 1979) yang beraneka ragam suku-bangsa dan bahasa daerahnya ini menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan Bangsa serasi dengan kepentingan pribadi atau golongan. Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dikem­bangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam Negara Indonesia yang berdasarkan Panca-sila ini, manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan keper-cayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya. Dan karena itu dalam negara ini dikembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa dan “tepa salira”, sikap tidak sewenang-wenang terhadap orang lain, serta sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.
Untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan Bangsa dan Tanah Air, maka diciptakan sikap dan tekad:
Bahwa ancaman terhadap satu pulau atau satu daerah pada hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh Bangsa dan Negara
Bahwa Pancasila adalah satu-satunya Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara Republik Indonesia

Baca juga isi yang lain:

Naskah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (hal 19), Rumusan Pancasila (hal 10), Pembukaan UUD ‘45 (hal 21), Batang Tubuh UUD ‘45 (hal 22), Tap MPR no II/MPR/1978 Tentang Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (hal 61), Tap MPR no. IV/MPR/ Tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (hal 79), Instruksi Presiden no 12 tahun 1968 Tentang Tata-urutan/Rumusan Pancasila (hal 186), Lambang Negara Republik Indonesia (hal 189), Lampiran Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 (hal 191), Tugas Pokok dan Sasaran Kabinet Pembangunan III (hal 195).

Kesimpulannya, negara kita baik-baik saja. Mana ada buku seindah ini?

Pada masanya, buku ini menjadi kitab suci bagi warga negara indonesia. Sakral. Barang siapa mengingkari isi buku kecil ini, dia akan mendapat banyak intimidasi dan kesulitan hidup. Contoh gampangnya, pegawai negeri sipil terancam kehilangan pekerjaan, orang awam dipersulit urusannya berkaitan dengan aparat pemerintah. Sedang pencari kerja terancam sulit mendapatkan Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB), sebuah sarat lumrah yang diberlakukan oleh para calon majikan waktu itu.