
Lanjutan cerita sebelumnya.
Terminal (atau bandara, seperti kita semua sudah paham) adalah tempat datang dan perginya banyak orang. Dan Changi adalah salah satunya. Terminal yang luar biasa. Ukurannya yang luas, megah, bersih dan menyenangkan. Maka tak perlu heran jika pakde dan para koleganya dari berbagai negara di asia, beberapa kali melakukan rapat sehari di sana. Semua keperluan pribadi selama rapat tersedia di sekilingnya, dengan harga yang sama dengan diluar terminal. Bandingkan dengan terminal di Indonesia. Sehabis rapat, peserta bisa langsung kembali ke negaranya masing-masing. Hemat dan praktis. Meski bagus, cara ini bisa dipastikan tidak akan ditiru pejabat kita. Sudah bukan rahasia umum, jika lamanya dinas sebanding dengan jatah (uang) perjalanan. Tidak peduli apakah dinasnya penting atau tidak, yang penting lama. Lama berarti uang banyak, singkat berarti sedikit. Itulah mengapa, anggota dewan senang melakukan perjalanan dinas. Dan tidak mungkin cuma sehari tentunya. Catatan: tidak berlaku untuk tukang wedang…
Salah satu hal yang membuatnya istimewa adalah layanan publiknya. Begitu turun dari pesawat, berderet brosur dan peta telah tersedia pada rak-rak di lorong menuju pemeriksaan imigrasi. Mulai dari informasi perbelanjaan, hiburan, penginapan hingga jalur-jalur MRT, beserta keterangan harganya. Semua itu gratis. Sebagai catatan, tidak hanya di Changi, pada hampir semua tempat di Temasek, layanan publiknya patut diacungi dua jempol. Setidaknya begitulah menurut saya. Air minum dimana-mana, internet dengan koneksi yang mengagum dan pijit kaki (dengan mesin) di ruang tunggu, toilet yang bersih dan wangi, kereta listrik (MRT) menuju ke stasiun kereta terdekat. Sekali lagi, gratis. Soal kenyamanan, tidak usah diragukan.
Sebagai orang Indonesia, saya jelas senang. Saat hendak kembali ke Jakarta, sambil menunggu waktu check in tiba, iseng-iseng saya mencoba coba-coba fasilitas umum itu . Telpon umum kondisinya, seperti kebanyakan telepon umum yang lain, terawat baik. Kondisi seperti ini pasti sulit ditemukan di Jakarta. Telpon dari bandara ke tanah air ternyata lebih mahal dari di luar bandara. Jika di luar bandara tarifnya 20 sen semenit, di sini 1 dollar cuma bisa semenit. Dengan kurs dollar singapura setara Rp 6.500, silahkan hitung sendiri. Sebagai perbandingan, sebotol air mineral dijual seharga 2 dollar.
Bosen mencoba-coba fasilitas itu, ganti main kamera. Saat jeprat sana jepret sini, tiba-tiba ada yang menyapa saya dalam bahasa Indonesia.
“Mas, memangnya boleh moto-moto di bandara ya?â€
“Memang ngga boleh? Saya malah ngga tau tuh. Wong ngga ada yang melarangâ€, jawab saya tidak yakin.
“Kalo gitu, tolong potoin kami dong…â€, pintanya agak ragu-ragu.
Rupanya ada 2 teman lain bersamanya. Kami segera terlibat dalam pembicaraan (sepertinya hanya orang Indonesia yang punya kebiasaan begini). Mereka semua sedang transit menuju Thailand, mengerjakan penambangan minyak lepas pantai. Sebelumnya, mereka mengerjakan proyek yang sama di Natuna. Bosnya mengirim mereka melalui Batam. Dari Batam mereka menyeberang dengan kapal. Legal, tentu saja.
Mendengar logat jawa mereka, saya iseng-iseng bertanya.
“Jawanya mana mas?â€
“Cilacapâ€
“Hah? Cilacapnya mana?â€, kali ini saya menggunakan bahasa jawa dialek Cilacapan.
“Kesugihan mas” (Kesugihan adalah salah satu kecamatan di Cilacap, sekitar 30 menit naik bis)
“Kesugihannya mana?â€, cecar saya.
“Keleng†(Kesugihan bagian barat)
“Keleng? Kenal Pak Fulan ngga?â€
“Itu Pak Lik sayaâ€
“Wah, kita saudara mas. Pak Fulan itu saudara Bapakku. Bapakku asli pesanggrahan (timur Keleng) lho…â€
Kami terbahak-bahak sampai-sampai orang-orang sekitar menengok ke arah kami dengan muka bingung. Kami sama-sama sulit mempercayai. Di sini. Berjarak entah berapa ribu kilometer dari rumah, “kebetulan†lah yang mempertemukan kami. Dunia memang ajaib….

Bengawan Solo dipake Temasek, kok ngga ada yang protes ya?

Internet cepet. Sayangnya harus berdiri.

Pijet gratis…
Ditulis 17 Januari 2008, diambil dari sini.


1 comment
Comments feed for this article
Maret 17th, 2008 at 10:01 pm
marmut
huahaha…dunia selebar daun kelooor. Jeruk kok makan jeruk, tibane poto-potoan. Jadi inget, kontak sampeyan lagi juga kayak gini. Ternyata, sampeyan juga kenal wahyu, kenal Yati, kenal pak Jun (warungselatsolo.dagdigdug)…badalah!!