makan-pagi.jpg

Pohon adalah salah satu hal yang menarik di Singapura. Mungkin karena mereka menyadari tak punya banyak tanah, untuk mengimbangi banyaknya gedung-gedung yang tingi, mereka menanam banyak pohon. Di semua tempat. Bahkan di kawawan bisnis yang padat, Orchard, pohon-pohon besar berjejer sepanjang kanan-kiri jalan. Begitu menyembul dari stasiun bawah tanah Orchad, kita akan segera disambut naungan teduh nan sejuk. Menakjubkan. Meneduhi trotoar sampai ke tengah jalan rayanya. Burung burung liar bertenggeran di dahannya siang dan malam. Kata Sir Ndobos, jalak bali yang disini sudah hampir punah, berkembang baik di sana. Begitu angun di pagi hari, kita akan disambut kicau burung yang bersautan. Makan pagi serasa ditengah hutan. Padahal ada di jantung kota! Hebat bukan?

Masih kata Sir Mbilung, sebenarnya pohon-pohon di sana itu artifisial. Maksudnya, tidak asli habitat Singapura namun didatangkan dari berbagai negara. Sesuai selera dan kebanyakan belum tentu sesuai dengan iklim sana. Efeknya, tanaman asli habis karena kalah bersaing dengan tanaman pendatang. Istilahnya, alelopati. Tanaman yang asli yang masih tersisa cuma ada di bukit timah dan pulau ubin.

dari-atas-hotel.jpgBahkan di berbagai tempat di Singapura, tanaman asli dibabat habis untuk diganti dengan pohon-pohon pendatang. Tanaman baru untuk “penghijauan” itu biasanya dipilih yang cepat tumbuh. Susahnya, tanaman model begini konsumsi airnya tinggi. Konsumsi air yang tinggi menyebabkan kebutuhan air negara ini tak cukup disuplai dari negerinya sendiri. Mereka mengimpor dari tetangga, Malaysia. Ujung-ujungnya, biaya perawatnnya menjadi sangat mahal.

Para pecinta lingkungan Singapura selalu beralasan: “Toh kami bisa melakukannya kok. Kenapa tidak?”

Begitulah! Kalo kaya, memang sombong.