Pohon adalah salah satu hal yang menarik di Singapura. Mungkin karena mereka menyadari tak punya banyak tanah, untuk mengimbangi banyaknya gedung-gedung yang tingi, mereka menanam banyak pohon. Di semua tempat. Bahkan di kawawan bisnis yang padat, Orchard, pohon-pohon besar berjejer sepanjang kanan-kiri jalan. Begitu menyembul dari stasiun bawah tanah Orchad, kita akan segera disambut naungan teduh nan sejuk. Menakjubkan. Meneduhi trotoar sampai ke tengah jalan rayanya. Burung burung liar bertenggeran di dahannya siang dan malam. Kata Sir Ndobos, jalak bali yang disini sudah hampir punah, berkembang baik di sana. Begitu angun di pagi hari, kita akan disambut kicau burung yang bersautan. Makan pagi serasa ditengah hutan. Padahal ada di jantung kota! Hebat bukan?
Masih kata Sir Mbilung, sebenarnya pohon-pohon di sana itu artifisial. Maksudnya, tidak asli habitat Singapura namun didatangkan dari berbagai negara. Sesuai selera dan kebanyakan belum tentu sesuai dengan iklim sana. Efeknya, tanaman asli habis karena kalah bersaing dengan tanaman pendatang. Istilahnya, alelopati. Tanaman yang asli yang masih tersisa cuma ada di bukit timah dan pulau ubin.
Bahkan di berbagai tempat di Singapura, tanaman asli dibabat habis untuk diganti dengan pohon-pohon pendatang. Tanaman baru untuk “penghijauan” itu biasanya dipilih yang cepat tumbuh. Susahnya, tanaman model begini konsumsi airnya tinggi. Konsumsi air yang tinggi menyebabkan kebutuhan air negara ini tak cukup disuplai dari negerinya sendiri. Mereka mengimpor dari tetangga, Malaysia. Ujung-ujungnya, biaya perawatnnya menjadi sangat mahal.
Para pecinta lingkungan Singapura selalu beralasan: “Toh kami bisa melakukannya kok. Kenapa tidak?”
Begitulah! Kalo kaya, memang sombong.


7 comments
Comments feed for this article
Maret 16th, 2008 at 1:05 am
wahyu
asyu….pengen ke singapura
Maret 16th, 2008 at 1:06 am
wahyu
aku yo pengen nang singapur
Maret 16th, 2008 at 10:31 am
ooo.. saya baru tahu kalau disana banyak pohon yang didatangkan dari luar daerahnya :))
Maret 16th, 2008 at 11:10 am
ealahh., pohon aja impor…
Maret 16th, 2008 at 11:11 am
ealah… pohon ae impor
payah *kabur dari orang2 singapore*
Maret 17th, 2008 at 8:24 pm
marmut
Hmm…waktu ke singapura kapan hari, nyempetin duduk santai di beranda The Coffe Bean & Tea Leaf di perempatan Orchard Road dan Bideford Road. Sekadar melepas lelah sambil minum es kopi sembari nunggu jadwal pesawat pulang ke Jakarta.
Tiba-tiba, ada kicauan burung…weh, seekor burung turun ke trotoar dari pepohonan di sepanjang pinggir Bideford Road. Badalah, onok manuk nang dalanan, padahal howone puanas tur rame banget lho! nang endi nang Indonesia sing ono? Tapi memang, Singapura berani keluar uang banyak. Toh, di Citra Raya Surabaya, hal itu ditiru. Sesuar sebagai kota tiruan Singapura, real estate milik Ciputra itu juga menanam pohon trembesi dan bougenville. Akar serabutnya sesuai untuk konsep jalur pedestrian…:)
Maret 17th, 2008 at 9:09 pm
wieda
di singapore ada botanical garden loooh……bagus, biar ngga seluas kebon raya bogor ato bali botanical garden…
dan lagi….singapore terkenal karena bersihnya, yg boleh membuang kotoran dijalan hanya burung….hihihi