You are currently browsing the monthly archive for Maret, 2008.
Uang dan bersukur seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Uang merepresentasikan nafsu, sedangkan bersukur merepresentasikan pengekangan terhadap keinginan dan hawa nafsu itu sendiri. Semakin banyak uang didapat, semakin ingin mendapatkan yang lebih, semakin sulit bersukur.
Tak heran kemudian muncul sindiran: “Bahkan dengan menelan dunia dan seisinya, semuanya belumlah cukup”
Haruskah tetap miskin agar pandai bersukur?
Kang Bihin, petani penggarap, yang selalu mengerjakan sawah keluarga kami selama puluhan tahun dari jaman simbah saya masih hidup hingga sekarang. Setiap menyerahkan hasil panen kepada ibu saya baik padi, palawija maupun yang lain, panen yang bagus maupun jelek, selalu disertai pengantar:
“Alhamdulillah Gusti Pangeran isih pareng paring rejeki kalih kula. Kiye bagiane ibune… (Alhamdulillah Tuhan masih memberikan rejeki pada saya. Ini bagian untuk ibu)”.
Tak lupa pula disertai hitung-hitungan jumlah timbangan hasil panennya, zakat yang dikeluarkan, serta berapa bagian masing-masing.
Al-hamdulillah, sebuah cara sederhana untuk menyatakan terima-kasih pada Gusti Pangeran yang maha-asih…
Dalam seminggu terakhir, tulisan saya yang tentang Salvation Army diserang spam. Hari ini sampai jam ini saja jumlahnya sudah 133 buah yang semua itu berasal dari satu IP Address yang sama 195.225.178.29 meski menggunakan nama yang kadang berbeda. Total yang sudah dihapus entah berapa tepatnya, sepertinya lebih dari 1000.
Ternyata saya tak sendiri, mas totoks juga mengalami hal yang sama. Gimana nih?
Cetakan Ketiga - Januari 1979
196 halaman (belum termasuk halaman yang hilang)
Iseng-iseng membongkar koleksi buku bapak, saya mendapatkan buku ini. Buku Saku Warga Negara Republik Indonesia. Sebuah buku yang pernah menggerakan negara ini. Optimistik, indah dan inspiratif. Sangat layak baca. Menggetarkan!
Coba saja baca kata pengantarnya:
KATA PENGANTAR
Setiap bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat mutlak memerlukan, bahwa setiap warga negaranya minimal mengetahui, memahami dan menghayati hal-hal pokok yang sangat mendasar tentang kenegaraan tanah airnya, untuk dapat membangun suatu bangsa dan negara yang dicita-citakannya dengan dukungan ketahanan nasional yang kokoh.
Read the rest of this entry »
Percakapan sore antara saya (S) dan teman (T).
T: kakakku diterima kerja di negeri seberang.
S: dimana?
T: di negeri yang jauh.
S: weh, selamat! aku ikut senang mendengarnya. semoga dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
T: tapi jauh… pulangnya lama, ongkosnya banyak.
S: kenapa tidak? aku juga pengin jika memungkinkan. bahkan jika ada lowongan untukku di negeri akhirat, akan kukejar. begitu bukan?
Pohon adalah salah satu hal yang menarik di Singapura. Mungkin karena mereka menyadari tak punya banyak tanah, untuk mengimbangi banyaknya gedung-gedung yang tingi, mereka menanam banyak pohon. Di semua tempat. Bahkan di kawawan bisnis yang padat, Orchard, pohon-pohon besar berjejer sepanjang kanan-kiri jalan. Begitu menyembul dari stasiun bawah tanah Orchad, kita akan segera disambut naungan teduh nan sejuk. Menakjubkan. Meneduhi trotoar sampai ke tengah jalan rayanya. Burung burung liar bertenggeran di dahannya siang dan malam. Kata Sir Ndobos, jalak bali yang disini sudah hampir punah, berkembang baik di sana. Begitu angun di pagi hari, kita akan disambut kicau burung yang bersautan. Makan pagi serasa ditengah hutan. Padahal ada di jantung kota! Hebat bukan? Read the rest of this entry »
Iklan sebuah perusahaan pengiriman uang internasional ini ada dimana-mana. Direct to bank - Philippines! Setidaknya di seputaran Orchad bertebaran iklan ini. Banyaknya iklan ini menunjukkan bahwa orang Philipina merupakan warga asing yang memiliki arti penting.
Dimana mereka bekerja? Kulit mereka yang kuning langsat dan bermata sipi, tak dapat saya bedakan dengan etnis china. Menurut cerita sopir taksi beretnis india berkewarga-negaraan singapura yang saya tumpangi menuju bandara, orang Philipina ini ada dimana-mana. Sebagian besar di sektor jasa. Mulai dari pekerja hotel, bisnis hiburan dan juga seks! Untuk urusan terakhir, wanita asal Indonesia menempati urutan kedua setelah mereka. Read the rest of this entry »
Depan Lucky Plaza (Orchard road, Singapore) menjelang natal yang lalu, saya jumpai beberapa orang berpakaian putih mirip seragam pegawai departemen kesehatan. Melihat seragamnya, saya pikir mereka pasti dari bagian medis angkatan laut yang sedang mencari dana. Meski kemudian muncul pertanyaan: masa iya PNS negara sekaya itu masih mengumpulkan sumbangan? Bagaimana sampai mendapat kesimpulan demikian, saya tak tahu. Tiba-tiba saja muncul pemikiran begitu. Aneh ya? Ndak usah dipikir.
Semula saya pikir Salvation Army adalah nama regu tembak dalam bahasa inggris. Logikanya, salvo adalah tembakan penghormatan terakhir pada pemakaman seorang prajurit. Jadi, salvation army ya berarti regu tembak. Karena mereka berseragam putih-putih, berarti mereka adalah regu tembak dari angkatan laut. Ternyata saya salah besar! Read the rest of this entry »

Lanjutan cerita sebelumnya.
Terminal (atau bandara, seperti kita semua sudah paham) adalah tempat datang dan perginya banyak orang. Dan Changi adalah salah satunya. Terminal yang luar biasa. Ukurannya yang luas, megah, bersih dan menyenangkan. Maka tak perlu heran jika pakde dan para koleganya dari berbagai negara di asia, beberapa kali melakukan rapat sehari di sana. Semua keperluan pribadi selama rapat tersedia di sekilingnya, dengan harga yang sama dengan diluar terminal. Bandingkan dengan terminal di Indonesia. Sehabis rapat, peserta bisa langsung kembali ke negaranya masing-masing. Hemat dan praktis. Meski bagus, cara ini bisa dipastikan tidak akan ditiru pejabat kita. Sudah bukan rahasia umum, jika lamanya dinas sebanding dengan jatah (uang) perjalanan. Tidak peduli apakah dinasnya penting atau tidak, yang penting lama. Lama berarti uang banyak, singkat berarti sedikit. Itulah mengapa, anggota dewan senang melakukan perjalanan dinas. Dan tidak mungkin cuma sehari tentunya. Catatan: tidak berlaku untuk tukang wedang… Read the rest of this entry »

dasar sial! hasil jepret sana jepret sini sejak pagi dimulai dari cengkareng hingga tumasek hingga menjelang tulisan ini dibuat, hilang dalam sekejap gara-gara utak-atik sok tahu dan akhirnya tak senagaja kepencet tombol format. asyem!
padahal banyak momen yang bisa disampaikan melalui gambar hasil jepretan. tentang tukang-tukang servis pesawat yang pijet-pijetan di bawah bayangan pesawat dalam panasnya udara cengkareng. tentang awan-awan hampir sepanjang penerbangan. tentang MRT temasek yang menakjubkan. dan tentang orchard road yang top markotop. karena itu semua ndak ada fotonya, anggep saja saya lagi ngimpi.
Tumasik (atau Temasek) adalah nama kuno dari negeri kecil tetangga kita di sebelah barat. Singapura. Konon, negeri mini ini sangat bersih, tertib, indah dan menyenangkan. Katanya pula, harga barang bermereknya di sana juga lebih murah. Makanya tak mengherankan jika kemudian orang-orang kaya jakarta yang kebingungan bagaimana caranya mbuang duit, mainnya kesana. Weekend Party at Temasek! Begitu bunyi iklan yang sering saya jumpai di koran-koran akhir minggu. Tumasik menjadi begitu gampang dijangkau, seolah tempat itu cuman berada di sebelah bunderan HI yang bisa disambangi tiap akhir pekan.
Belakangan, Temasek yang kepunyaan negeri mini itu sedang ramai dibicarakan media kita. Huh, basi! Mana pernah kita menang melawan mereka? Mulai dari persoalan tkw, perjanjian arbitrase, hingga masalah asap. Kita selalu saja jadi cecunguk dihadapan mereka.
Duor! Tiba-tiba, kok saya ingin kesana. Mau ngapain? Ah, itu nanti saja saya pikirkan…
Ditulis pada 21 Nopember 2007, diambil dari sini.




Komentar-komentar terakhir