Feed on
Posts
Comments

Bahasa merupakan identitas terpenting dari suatu bangsa. Sayangnya, bahasa kita “terlihat” kurang bergengsi di mata bangsa kita sendiri. Buktinya, silahkan cermati tulisan di bawah ini.

Tulisan berikut adalah tulisan Kang Hasan. Tetapi saya rasa sangat penting untuk direnungkan bersama. Bahwa ternyata kita, sebagai bangsa, belum mampu mengatasi mental keterjajahan. Yaitu, krisis kepercayaan diri yang rendah. Kita belum selesai dalam proses “menjadi” Bangsa Indonesia, kata Pram. *woconen dewe lah*

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?”

SIM Komunitas

Saya senang POLRI mulai berbenah. Buktinya, ya pelayanan SIM komunitas ini.

Tentang saratnya,  disitu disebutkan:

  1. Mengajukan surat permohonan SIM komunitas ke Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya up Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
  2. Jumlah pemohon SIM maksimal 150 orang dan minimal 30 orang. Sebutkan lokasi pelaksanaan pembuatan SIM dan jumlah orang yang akan mengurus SIM.
  3. Surat harus ditandatangani oleh pimpinan perusahaan atau pengurus RT/RW di kompleks atau perumahan.
  4. Menyediakan tempat yang cukup luas karena pihak Lantas Polda harus membawa dua kendaraan sejenis bus ke lokasi. Satu bus untuk ujian teori dan satu bus membawa peralatan praktik SIM.
  5. Bagi pemohon pembuatan SIM baru harus mengikuti ujian, tetapi bagi pemohon yang akan memperpanjang SIM, cukup melampirkan KTP sesuai identitas di SIM.
  6. Waktu pelaksanaan jam kerja, pukul 08.00-16.00.

Di tengah carut marut pelayanan publik di negeri ini dan berbagai kekurangannya, bagi saya terobosan ini patut diacungi jempol.

Abu Nawas

Riwayat Abu Nawas ini jauh lebih seru daripada Nasruddin.

Saya sendiri heran, kenapa Abu Nawas sampai di sini dikesankan sbg seorang yang cenderung konyol, orang bijak yang senang bermain-main atau memain2kan nasehat, atau guru sufi yang “sangat saleh” atau yang sejenisnya. Lebih dari sekadar itu, ia adalah seorang pemberontak pada masanya, mungkin seperti Marquis de Sade pada era Napoleon yang bengalnya ga ketulungan [kata "sado" --yang berarti "sadis"-- dalam frase sado-masokis diambil dari namanya].

Continue Reading »

Nasruddin Hoja

Dia legenda dari masa kejayaan Islam pada periode abad 13. Legendanya tersebar dari mulai Turki, Persia, sampai ke pecahan negara-negara Sovyet yang warganya banyak menganut Islam, seperti Tajikistan atau Kazakhstan.

Continue Reading »

simbah.jpg

Namanya Mbok Temo. Rasanya belum terlalu lama dia menumpang di pekarangan keluarga kami. Sekitar 10 tahun, sangat mungkin lebih. Saya tak ingat betul. Ya, kurang lebihnya segitu lah. Menumpang rumah bukan sesuatu yang luar biasa di kampung kami. Disebut menumpang rumah karena mereka mendirikan rumah di atas tanah orang lain. Seijin pemilik tanah tentunya. Hingga mereka punya tanah sendiri, atau sampai mereka merasa ada tumpangan yang lebih baik. Beberapa diantaranya bahkan sampai mati. Continue Reading »

Khitan untuk perempuan

Teman sepabrik yang baru beberapa bulan punya anak perempuan sedang bingung. Ibunya, nenek sang bayi, meminta sang bayi untuk disunat. Padahal ini sudah sangat terlambat jika menilik kebiasaan khitan perempuan biasanya dilakukan segera setelah persalinan.

Tentu saja saya terkaget-kaget. Lha gimana tidak, masa masih ada hal beginian di jaman sekarang? Di Jakarta pula! Aneh benar.

Meski kalangan ulama terdahulu (dengan dalil-dalinya) berpendapat khitan bagi wanita adalah sunnah, saya justru berpendapat sebaliknya. Khitan perempuan itu tak perlu, karena dasarnya lemah. Pertimbangan saya sederhana saja. Khitan adalah tradisi milah Ibrahim untuk kaum lelaki guna menjaga kelamin dari kotoran. Lha kalau perempuan, apanya yang mau dikurangi? :P

Wallahu a’lam…

Selalu saja ada orang yang mau tertib

wi.jpg

Saya masih saja tergumun-gumun dengan perilaku masyarakat kita sendiri. Sepertinya yang namanya mentalitas takut ndak kebagian itu kok sudah begitu akut dan sulit ditertibkan. Setidaknya begitulah perilaku yang saya lihat pada sebagian orang. Cilakanya, sebagaimana provokator dalam acara demo massal, perilaku mereka yang cuma beberapa orang itu memicu orang lain untuk berbuat hal yang sama. Maka, segera saja terjadilah rebutan kemruyuk yang tak jelas itu.

 

Begitulah yang terjadi pada acara buka bersama sekitar 300-an ibu-ibu dan anak-anak di Wahid Institute (WI) minggu sore kemarin itu.
Continue Reading »

seribuan.jpg

Gusti Pengeran sungguh welas asih. Doa saya itu benar-benar terkabul. Padahal sih sebenarnya ngarepnya ya ndak banget-banget amat ( meski kalau dikasih ya jelas saja seneng).  Gimana saya mau ngarep mulu, lha wong rasanya Gusti itu sudah memberi saya jauh lebih banyak dari yang saya harapkan semula je.

Maksud saya begini, dulu setelah sekolah yang kedarang-darang lama banget ndak lulus-lulusnya itu, saya sempat pesimis. Ya apa iya nanti saya bisa nyari pekerjaan? Ndak usah kerja yang muluk-muluk lah. Dalam bayangan saya, yang penting ndak perlu minta duit lagi sama orang tua.

Continue Reading »

Pembagian Ramadhan

Sepuluh hari pertamanya adalah barokah
Sepuluh hari kedua maghfirah
Sepuluh hari terakhir THR

Hore…

Teman: Kok bisa sih suaminya yang lulusan agama itu menjadi programmer?

Saya: Programmer dan agama itu bedanya cuma obyek yang disembah. Agamawan menyembah tuhan, sedang programmer yang disembah server. Simpel bukan?

Older Posts »